SMARTMEDAN.COM, MEDAN – Harga minyak goreng subsidi merek Minyakita di sejumlah pasar tradisional Kota Medan dilaporkan mengalami kenaikan drastis hingga menyentuh angka Rp22.000 per liter. Kondisi ini memicu keresahan besar di tengah masyarakat, terutama bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.
Menganggap harga yang jauh melampaui batasan pemerintah, Anggota Komisi III DPRD Medan, Sri Rezeki, mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk segera melakukan pemeriksaan mendadak (sidak) guna mengidentifikasi penyebab masalah dan menutup ruang bagi para spekulan.
Politisi dari PKS ini menegaskan agar pemerintah bertindak cepat tanpa harus menunggu isu ini menjadi viral di media sosial terlebih dahulu. “Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Cari tahu penyebabnya dan apa solusinya. Kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang menjepit, jangan ditambah susah payah lagi,” tegas Sri Rezeki pada Selasa (12/5).
Persoalan ini dinilai sangat mendesak karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok yang digunakan hampir di setiap rumah tangga. Sri Rezeki mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak akan memicu efek domino terhadap kenaikan harga makanan lainnya, yang pada akhirnya semakin membebani daya beli masyarakat. Solusi konkretnya, ia mendorong Pemko Medan untuk segera menggelar operasi pasar atau pasar murah agar masyarakat dapat merasakan perubahan harga secara nyata.
“Pemko harus cepat bergerak. Jangan hanya bilang sudah turun, tapi entah turun ke mana, karena hasilnya tidak ada dan masyarakat tidak merasakan perubahan,” seraya menambahkan kritik terhadap respons pemerintah yang dinilai belum efektif di lapangan.
Selain minyak goreng, pemantauan di beberapa pasar besar seperti Pasar Sukaramai, Petisah, dan Aksara pada Mei 2026 juga menunjukkan tren kenaikan harga pada sejumlah bahan pokok lainnya. Harga cabai rawit terpantau sempat menembus angka Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram, sementara bawang merah dan bawang putih bertahan di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Komoditas daging ayam ras juga masih dibanderol tinggi antara Rp35.500 hingga Rp40.000 per kilogram, disusul dengan kenaikan harga beras dan gula pasir yang menambah beban pengeluaran warga.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor rumah tangga, namun juga memberikan tekanan berat bagi para pelaku UMKM di Medan. Selain kenaikan harga bahan baku pangan, biaya operasional usaha kecil juga semakin membengkak akibat naiknya harga perlengkapan usaha seperti kemasan plastik.
Dengan situasi ekonomi yang tidak menentu, koordinasi lintas sektoral untuk menstabilkan harga pangan di pasar-pasar masyarakat tradisional menjadi harapan utama warga agar roda ekonomi kecil tetap dapat berputar tanpa memikirkan luas.
Sumber: Tribun Medan
