SMARTMEDAN.COM, MEDAN – Harga ayam potong di sejumlah pasar di Sumatera Utara terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan biaya produksi peternakan yang dipicu oleh naiknya harga pakan, salah satunya akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Di Pasar Tiga Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, pedagang ayam potong Islian mengaku penjualannya turun hingga 50 persen dalam sekitar satu bulan terakhir.
Menurutnya, berkurangnya pembeli menjadi faktor utama turunnya harga ayam di pasaran. “Pembelinya yang kurang. Kalau penjualan turun, sekitar setengah dari biasanya,” ujar Islian kepada Tribun Medan, Selasa (9/6/2026).
Ia mengatakan harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp30 ribuan per kilogram kini dijual sekitar Rp26 ribu per kilogram. Meski keuntungan menipis, ia tetap memilih menjual dengan margin kecil agar perputaran usaha tetap berjalan.
“Yang penting lancar. Untung tipis tidak masalah, yang penting tetap mutar,” katanya.
Islian menduga salah satu faktor yang memengaruhi penurunan permintaan adalah beroperasinya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, sebagian kebutuhan ayam kini terserap melalui program tersebut sehingga pola konsumsi rumah tangga ikut berubah. Ia berharap pengadaan kebutuhan ayam untuk program MBG dapat melibatkan lebih banyak pedagang dan pemasok lokal.
“Kalau bisa jangan satu tempat saja yang dapat. Misalnya kebutuhan 500 ekor, dibagi ke beberapa pemasok supaya merata,” ujarnya. Sementara itu, pedagang lainnya, Ayu, mengatakan penurunan permintaan lebih terasa pada ayam potong atau broiler, sedangkan ayam kampung, bebek, dan telur relatif masih stabil.
Ayu menambahkan, peternak tetap mengeluhkan kenaikan harga pakan meskipun kenaikannya tidak terlalu besar. “Kalau peternak pasti mengeluh, karena harga pakan naik sementara harga jual hasil panen turun,” ujarnya.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai penurunan harga ayam yang terjadi sejak April cukup menarik karena tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi pasokan di lapangan. Berdasarkan data miliknya, pasokan ayam pada April justru turun sekitar 17 persen secara bulanan, namun harga di Pasar Tanjung Morawa turun dari sekitar Rp39 ribu per kilogram pada awal April menjadi Rp34 ribu per kilogram di akhir bulan, dan turun lagi ke kisaran Rp32 ribu pada Mei. Memasuki Juni, pasokan ayam naik sekitar 18 persen dibandingkan April, tetapi harga justru berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram.
Menurut Gunawan, ada tiga faktor pemicu pelemahan harga ayam potong saat ini. Pertama, menurunnya daya beli masyarakat menjelang kenaikan kelas dan tahun ajaran baru karena banyak rumah tangga mulai menghemat pengeluaran untuk kebutuhan sekolah anak. “Pedagang maupun produsen menyatakan bahwa penurunan belanja tahun ini lebih terasa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Banyak ibu rumah tangga yang lebih irit menjelang kenaikan kelas,” ujarnya.
Faktor kedua adalah potensi melemahnya serapan ayam potong oleh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), padahal sebelumnya program tersebut menjadi salah satu penggerak utama permintaan hingga meningkatkan produksi sekitar 17 hingga 25 persen.
Faktor ketiga adalah peningkatan pasokan ayam yang terjadi baru-baru ini, meski kenaikannya dinilai tidak cukup besar untuk menjelaskan penurunan harga yang cukup tajam. Di tengah harga ayam yang melemah, peternak menghadapi kenaikan harga pakan sedikitnya tiga kali sejak perang Iran-AS meletus, dengan kenaikan sekitar Rp600 hingga Rp800 per kilogram.
Gunawan menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi tersebut tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Karena sebagian kebutuhan pangan itu komposisi harganya juga dipengaruhi oleh pelemahan rupiah. Seperti bungkil kedelai yang diimpor. Belum lagi GPS (grand parent stock), tepung ikan, plastik hingga obat-obatan atau vitamin,” katanya.
Saat ini harga ayam hidup di tingkat peternak berada di kisaran Rp17 ribu per kilogram di wilayah Aceh dan sekitar Rp19 ribu per kilogram di Sumatera Utara. Jika terus berlangsung, peternak bermodal kecil berpotensi kesulitan bertahan.
“Pemerintah harus fokus pada pembenahan daya beli masyarakat untuk menjaga agar harga ayam potong tidak memberatkan peternak. Sangat miris jika ada ibu rumah tangga yang sengaja mengurangi pembelian daging ayam karena uangnya disisihkan untuk memenuhi kebutuhan tahun ajaran baru,” pungkas Gunawan.
Sumber: Tribun Medan
