SMARTMEDAN.COM, MEDAN – Harga tempe dan tahu di Pasar Tradisional Medan, terpantau masih stabil meski harga kedelai sebagai bahan baku utama mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Sembiring (45), pedagang tempe di Pasar Kampung Lalang, mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan harga jual baik untuk tempe ukuran kecil maupun besar. “Belum ada kenaikan harga. Masih sama seperti biasanya,” ujar Sembiring saat ditemui di Pasar Kampung Lalang, Senin (8/6/2026).
Meski demikian, tekanan akibat kenaikan harga kedelai disebut mulai dirasakan para pengrajin tempe dan tahu yang mengolah langsung bahan baku tersebut. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat telah mendorong kenaikan harga kedelai impor dan membebani pelaku usaha skala kecil.
Menurutnya, harga kacang kedelai naik dari kisaran Rp9.000 hingga Rp9.600 per kilogram pada Januari 2026, sebelum konflik Iran dan Amerika Serikat memanas, menjadi sekitar Rp10.800 per kilogram saat ini, di mana kenaikan tersebut mencapai sekitar 16,7 persen.
“Bagi produsen tahu usaha mikro atau kecil yang mengolah sekitar 400 kilogram kedelai per hari, kenaikan harga ini menyebabkan tambahan beban minimal Rp480 ribu per hari. Ditambah kenaikan harga minyak goreng sekitar Rp2.000 per kilogram, beban usaha bisa bertambah hingga Rp490 ribu sampai Rp500 ribu per hari,” kata Gunawan.
Ia menjelaskan, tambahan biaya tersebut setara dengan sekitar Rp15 juta per bulan, sementara di sisi lain produsen tahu belum sepenuhnya membebankan kenaikan biaya kepada konsumen. “Saat ini harga satu papan tahu kecil hanya naik dari Rp36 ribu menjadi Rp38 ribu. Padahal beban kenaikan harga kedelai per papan mencapai minimal Rp2.400,” ujarnya.
Gunawan menilai kenaikan harga kedelai pada periode saat ini tergolong tidak wajar karena berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya, harga kedelai pada pertengahan tahun biasanya masih berada di kisaran Rp9.000 per kilogram. “Kenaikan harga kedelai biasanya terjadi pada kuartal keempat. Tahun lalu harga kedelai di kuartal IV berada di kisaran Rp11 ribu per kilogram. Jika pelemahan rupiah bertahan hingga akhir tahun, harga kedelai berpotensi mencapai Rp13 ribuan per kilogram,” katanya.
Tekanan serupa juga dirasakan produsen tempe, namun sebagian pengrajin memilih tidak menaikkan harga jual dan menyiasatinya dengan mengurangi berat produk. Sebagai contoh, tempe yang sebelumnya berbobot 2,5 ons dan dijual Rp2.500 kini dikurangi menjadi sekitar 2,3 ons dengan harga yang tetap sama. “Artinya terjadi pengurangan berat sekitar 8 persen. Selain harga kedelai, produsen tempe juga menghadapi kenaikan harga plastik kemasan,” ujar Gunawan.
Menurutnya, pengurangan ukuran atau berat produk tanpa perubahan harga merupakan fenomena inflasi terselubung yang dikenal sebagai shrinkflation, dan di beberapa daerah lain telah terjadi kenaikan harga tempe hingga 20 persen selama Mei 2026.
Sumber: Tribun Medan
