SMARTMEDAN.COM, MEDAN – Kasus dugaan intimidasi dan penculikan kembali menimpa insan pers di Kota Medan, Sumatera Utara. Seorang jurnalis dari media online Metro Investigasi bernama Sigit, mengaku menjadi korban dugaan intimidasi dan penculikan oleh dua orang yang diduga oknum TNI.
Peristiwa traumatis tersebut terjadi di sebuah kafe di Jalan Tempuling, Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, pada Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Kejadian bermula saat korban yang sedang membawa mobil rental dari luar kota, dihubungi oleh seorang oknum wartawan melalui sambungan telepon yang mengajaknya untuk bertemu di Kafe DWS Tembung.
Sesampainya di lokasi sekitar pukul 21.00 WIB, Sigit langsung duduk sembari memesan kopi dan mengisi daya baterai (cas) handphone miliknya. Tak lama berselang, dua pria berpakaian preman tiba-tiba mendatangi mejanya. Salah satu pelaku langsung merampas handphone milik korban, sementara tangan korban dipelintir ke arah belakang.
Pemilik warung kopi yang menyaksikan kejadian tersebut sempat bertanya, “Bang, masalah apa? Judi online ya?” yang kemudian langsung dijawab oleh Sigit, “Bukan, ini soal minyak kondensat di Langkat.” Usai ketegangan tersebut, Sigit dibawa pergi menggunakan mobil Toyota Innova Reborn berwarna hitam.
Di dalam mobil tersebut, korban mengaku mendapat tekanan psikologis dari kedua pria tersebut. Selanjutnya, Sigit dibawa ke sebuah warung kopi di Jalan Tuamang, Kecamatan Medan Tembung. Di lokasi itu, ia dipaksa membuat video klarifikasi. Namun, karena video pertama disebut tidak memuaskan, dirinya diminta mengulang rekaman klarifikasi kedua.
Sigit sempat diajak mencari tempat tertutup dan mau ke Starbucks, tetapi karena sudah tutup sekitar pukul 23.00 WIB, mereka akhirnya menuju ke kafe lain di depan gedung serbaguna untuk mengetes korban dan menyuruhnya membuat video klarifikasi lagi.
Dalam video tersebut, Sigit diminta menyatakan tidak ada keterlibatan oknum TNI dalam kasus yang sedang diliputnya, padahal diduga memang ada. Korban sempat membela diri dengan mengatakan, “Kan sudah ada video klarifikasi di mobil,” tetapi mereka menolak dan menjawab, “Tidak masuk.”
Meskipun tidak mengalami kekerasan fisik atau dianiaya, Sigit mengalami tekanan psikologis berat dan trauma karena diperlakukan seperti diinterogasi dengan pertanyaan, “Kau wartawan? Sudah berapa tahun? Kau enggak ada konfirmasi?” Akibat kejadian itu, korban mengaku ketakutan hingga sekarang selalu melihat kanan kiri setiap keluar rumah.
Masalah ini menjadi kian pelik lantaran video dirinya bersama dua pria di dalam mobil tersebut viral di media sosial TikTok, sehingga orang tuanya ikut mempertanyakan kejadian yang menimpanya. Korban menyatakan ada kaitannya dengan oknum yang diduga pemilik, di mana kejadiannya sebelum Lebaran, saat bulan puasa.
Hingga kini, Sigit mengaku masih berkomunikasi dengan salah satu perwira TNI terkait persoalan tersebut, namun ia meminta institusi TNI memiliki etika dalam menyikapi kerja jurnalistik dan tidak melakukan intimidasi terhadap wartawan.
Jika persoalan video klarifikasi dan video viral ini tidak ditindaklanjuti secara proporsional, Sigit menegaskan berencana melaporkan kejadian ini ke Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) atau institusi terkait. “Saya mohon kepada Bapak Panglima dan Bapak Pangdam, jangan seenaknya terhadap kawan-kawan jurnalis. Ini sudah intimidasi. Kalau tidak ada itikad baik, saya akan melapor,” tegas Sigit saat ditemui pada Jumat (15/5).
Sumber: Tribun Medan
