SMARTMEDAN.COM – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina), Sumatera Utara, menyiapkan lahan seluas empat hektare di Desa Hutatonga, Kecamatan Panyabungan Barat, sebagai lokasi percontohan (pilot project) pengembangan pisang kepok yang terbebas dari penyakit layu fusarium
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemkab Madina menggandeng akademisi dari Universitas Medan Area (UMA), yakni Prof. Zulkarnain Lubis, Prof. Suswati, dan Assoc Prof. Syahbudin Hasibuan.
Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution bersama tim akademisi dan Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga meninjau langsung proses pembersihan lahan, Kamis (9/7).
Bupati Saipullah mengatakan program ini merupakan langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan pisang kepok yang dahulu menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Selain sebagai kebun produksi, kawasan tersebut juga akan dikembangkan berbasis edukasi dan pariwisata.
“Nantinya kita kombinasikan, ada kolam, pondok, hingga kuliner berbasis pisang. Bisa dibuat saung-saung untuk tempat masyarakat menikmati produk olahan pisang,” ujar Saipullah.
Ia menambahkan, pengembangan tidak hanya difokuskan pada produksi buah, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui industri olahan serta upaya pendaftaran Indikasi Geografis.
“Produknya bisa dikembangkan menjadi tepung, kue, dan berbagai jenis makanan lain yang dapat diproduksi pelaku usaha kecil dan menengah,” katanya.
Assoc Prof. Syahbudin Hasibuan menjelaskan konsep kebun yang dikembangkan mengusung prinsip zero waste, di mana seluruh bagian tanaman pisang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Pada tahap awal, jenis yang ditanam adalah pisang kepok kuning sembari menelusuri indukan plasma nutfah yang sesuai dengan varietas asli Mandailing Natal sebelum terdampak penyakit layu fusarium.
Sementara itu, Prof. Zulkarnain Lubis menyebutkan pihaknya tengah mengembangkan bibit pisang kepok yang tahan terhadap penyakit tersebut. Bibit berumur dua hingga tiga bulan nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat.
“Kami juga akan melakukan sosialisasi cara budidaya agar terhindar dari penyakit. Selama lebih dari 20 tahun, daerah ini kehilangan potensi besar dari komoditas pisang kepok,” ujarnya.
Prof. Suswati menambahkan, pemilihan lokasi di Desa Hutatonga didasarkan pada kondisi kesehatan tanah yang lebih baik dibandingkan wilayah lain sehingga dinilai lebih aman dari risiko penyakit.
“Risiko penyakit layu fusarium maupun penyakit darah memiliki masa pemulihan hingga 20 tahun, sehingga pemilihan lahan menjadi sangat penting,” katanya.
Ia menjelaskan, perbanyakan bibit dilakukan melalui metode kultur jaringan tanpa bunga jantan untuk meminimalkan penularan penyakit oleh serangga.
Menurut Suswati, diperlukan strategi komprehensif untuk mengembalikan kejayaan pisang kepok lokal atau dikenal sebagai pisang Sitabar yang mengalami penurunan sejak sekitar dua dekade terakhir.
Dari sisi pemasaran, peluang pisang kepok segar dinilai masih terbuka luas seiring berkembangnya kafe dan kedai kopi di daerah maupun tingkat provinsi.
Dalam peninjauan tersebut, Bupati turut didampingi Asisten I M. Sahnan Pasaribu, Kepala Dinas Pariwisata Syukur Soripada Nasution, Kepala Dinas Perikanan Alinafiah, Kepala Dinas Kominfo M. Syail Lubis, serta Camat Panyabungan Barat Ainannur.
Sumber: ANTARASUMUT
