SMARTMEDAN.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan klarifikasi resmi mengenai dampak bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera beberapa waktu lalu. Tito meluruskan simpang siur informasi dengan memastikan bahwa terdapat total lima desa yang dinyatakan hilang sepenuhnya secara fisik, bukan 29 desa sebagaimana kabar yang beredar sebelumnya.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera ini merincikan bahwa kelima desa tersebut tersebar di dua provinsi, yakni tiga desa di Aceh dan dua desa di Sumatera Utara.
“Ada lima desa di dua kabupaten, yaitu Gayo Lues (Aceh) dan Tapanuli Selatan (Sumatera Utara). Desa-desa ini hilang total, betul-betul tidak ada lagi desanya,” tegas Tito saat ditemui di kediamannya, kawasan Senayan, Jakarta, Senin (23/3/2026).
Rincian Desa yang Hilang:
- Sumatera Utara (Tapanuli Selatan):
- Desa Garoga (Kecamatan Batangtoru)
- Desa Tandihat (Kecamatan Angkola Selatan)
- Aceh (Gayo Lues):
- Desa Pasir
- Desa Remukut
- Desa Tetingi
Tito menjelaskan bahwa untuk Provinsi Sumatera Barat tidak ada laporan desa yang hilang. Sementara itu, bagi desa yang terdampak berat namun fisiknya masih ada, tetap akan masuk dalam skema penataan ulang, bukan penghapusan administrasi.
Langkah Relokasi dan Administrasi
Terhadap lima desa yang hilang total tersebut, Mendagri telah menginstruksikan jajaran Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa untuk menghapusnya dari administrasi pemerintahan. Warga dari desa-desa tersebut akan direlokasi ke tempat baru yang lebih aman.
“Warganya akan pindah ke tempat lain melalui relokasi. Lahan disiapkan oleh pemerintah daerah, sementara bangunan rumah akan disiapkan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP),” tambah Tito.
Selain hunian, pemerintah juga akan melakukan penataan ulang data kependudukan (KTP) bagi warga terdampak agar mereka resmi terdaftar sebagai warga di lokasi atau desa tujuan relokasi yang baru. Langkah ini diambil agar pelayanan publik bagi warga korban bencana tetap dapat berjalan optimal meski domisili asal mereka telah hilang akibat bencana.
Sumber: Tribun Medan
