SMARTMEDAN.COM – Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada sisa tahun 2026 diproyeksikan hanya mendekati batas bawah target sasaran Bank Indonesia sebesar 4,9 persen, meski diperkirakan tetap bertahan di kisaran angka 5 persen. Laju perekonomian daerah ini dinilai masih akan bergantung pada empat sektor utama, yakni pertanian, industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyampaikan analisis tersebut di Medan pada Selasa, 15 September 2026. Ia merasa kurang optimistis pertumbuhan ekonomi daerah mampu mencapai batas atas proyeksi Bank Indonesia di level 5,7 persen.
“Mengapa saya tidak begitu optimis dengan laju pertumbuhan ekonomi Sumut bisa mendekati batas atas BI 5.7%. dikarenakan ketiga sektor tersebut secara kuartalan justru melambat atau bahkan terkontraksi pada kuartal pertama tahun 2026 ini,” ujarnya.
Sektor perdagangan besar dan eceran yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,57 persen terpantau mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal kedua tahun 2025.
Perkembangan negatif juga terlihat pada dua sektor vital lainnya di awal tahun. Pada kuartal pertama tahun 2026, sektor konstruksi sempat mengalami kontraksi hingga 3,63 persen, sementara sektor industri pengolahan turut terkontraksi sebesar 0,41 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat tolok ukur proyeksi pembangunan ekonomi Sumatera Utara sangat bergantung pada tingkat belanja masyarakat, khususnya selama momen Ramadan dan Idulfitri. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memegang peranan sebagai penyumbang kontribusi terbesar bagi perekonomian daerah.
“Sehingga kalau belanja saat Ramadhan dan Idul Fitri justru alami tekanan, maka sulit berharap kontribusi dari belanja rumah tangga dijadikan motor penggerak ekonomi hingga tutup tahun,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa motor penggerak dari sisi pengeluaran belakangan ini masih terbebani oleh tingginya tingkat inflasi. Sejauh ini, konsumsi masyarakat banyak ditopang oleh pelaksanaan program bantuan sosial yang disalurkan oleh pemerintah.
Khusus untuk sektor konstruksi, kinerjanya diproyeksikan masih memiliki peluang mengalami perlambatan ke depan. Meskipun belakangan ini sektor tersebut mendapatkan dorongan dari pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang berlangsung cukup masif.
Kinerja sektor konstruksi dinilai kurang mendapatkan dukungan dari aktivitas pembangunan rumah komersial. Banyak pengembang perumahan komersial memilih untuk menunda pengembangan proyek akibat lonjakan harga material bangunan yang diiringi kenaikan suku bunga pinjaman perbankan, sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan BI rate sebelumnya.
Di sisi lain, kontribusi Koperasi Desa Merah Putih terhadap perekonomian secara lebih menyeluruh masih terus dinanti. Pembangunan koperasi tersebut memang telah mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, namun kalkulasi mengenai sumbangsih kinerjanya terhadap perekonomian secara umum masih memerlukan waktu.(Siong)
Sumber: Seputar Sumut
