
SMARTMEDAN.COM – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution mendukung pengembangan berbagai komoditas potensial ekspor agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi di daerah.
Menurutnya, peningkatan produksi harus diiringi produk turunan, dan stabilitas pasokan hingga pemanfaatan teknologi guna memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Jadi, pengembangan komoditas harus diarahkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ucap Bobby usai menerima Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumut N Prayatno Ginting di Kantor Gubernur Sumut, Senin.
Gubernur melanjutkan, sehingga bisa memberikan dampak terhadap perekonomian bagi masyarakat Sumut, dan begitu juga dengan pemanfaatan teknologi yang ada.
Pihaknya menilai, Sumatera Utara memiliki peluang investasi di sektor pangan, tapi stabilitas produksi dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi hal penting harus diperhatikan.
“Banyak yang berpotensi, seperti di Kepulauan Nias. Di sana belum ketemu pasar yang sesuai. Namun masalahnya bukan pasarnya, tetapi jumlah produksi belum memenuhi kebutuhan pasar,” jelas Bobby.
Ia mengatakan, kapasitas produksi dalam jumlah tertentu diperlukan agar suatu komoditas mampu memberikan nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat yang memproduksinya.
Bobby menyebutkan, pemerintah memiliki peran menyiapkan kebijakan dan program, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama produksi, termasuk penyediaan pasar dan komoditas.
“Program dan anggaran pemerintah harus menghasilkan sesuatu bermanfaat bagi masyarakat. Kami juga ingin menjalin kerja sama untuk meneliti, dan mengembangkan komoditas berpotensi untuk diekspor,” tuturnya.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumut N Prayatno Ginting menyambut baik rencana pengembangan komoditas baru yang berpotensi diekspor dari Sumatera Utara.
Pihaknya mengatakan, salah satu komoditas yang memiliki nilai ekspor tinggi namun belum banyak terpantau masyarakat Sumut adalah lidi sawit.
Sejumlah komoditas asal Sumut, seperti kepiting, udang, dan sarang burung walet juga memberikan kontribusi besar terhadap ekspor dengan nilai sekitar Rp8,1 triliun.
“Saat ini kendala kita, sampel hama dan penyakit masih harus dikirim ke laboratorium di Jakarta dan Surabaya. Biayanya cukup besar. Kami berharap (laboratorium, red) yang ada di sini bisa dibuka kembali,” tutur Ginting.
Sumber: ANTARASUMUT
