SMARTMEDAN.COM, MEDAN – Perjalanan dua wakil Sumatera Utara di ajang Liga 4 Piala Presiden 2026 harus terhenti lebih cepat. Paya Bakung United dan Binjai City Sport Club gagal melangkah ke babak 32 Besar setelah tidak mampu bersaing di fase grup kompetisi kasta keempat sepak bola Indonesia tersebut.
Pada Liga 4 Piala Presiden 2026, Sumatera Utara sejatinya memiliki dua perwakilan, yakni juara Liga 4 Sumut Paya Bakung United dan Binjai City Sport Club yang berstatus juara ketiga Liga 4 Sumut. Binjai City mendapat kesempatan tampil setelah runner-up Liga 4 Sumut, PS Kwarta, memutuskan mengundurkan diri dari keikutsertaan di putaran nasional. Namun, langkah kedua tim tersebut di level nasional tidak berjalan sesuai harapan.
Paya Bakung United yang tergabung di Grup B bersama Makassar City FC, Persemar Martapura, dan Persebi Bima harus menerima kenyataan pahit menjadi penghuni dasar klasemen setelah menelan tiga kekalahan beruntun. Nasib serupa juga dialami Binjai City Sport Club di Grup G bersama Persima Mamuju, Unaaha FC Konawe, dan Persipegaf, di mana Binjai City hanya mampu mengoleksi tiga poin dari satu kemenangan dan dua kekalahan hingga menempati posisi ketiga klasemen akhir grup. Menanggapi hasil tersebut, Sekretaris PSSI Sumut, Yosephine Sembiring, tetap memberikan apresiasi atas perjuangan yang telah ditunjukkan kedua tim di tingkat nasional.
“Yang pastinya kami mewakili PSSI Sumatera Utara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Paya Bakung dan Binjai City yang sudah membawa nama Sumatera Utara di level nasional untuk mewakili kita semua dan telah berjuang di level amatir sepak bola Liga 4,” ujar Yosephine kepada Tribun Medan.
Ia meminta kedua tim tidak larut dalam kekecewaan dan menjadikan pengalaman tampil di kompetisi nasional sebagai modal berharga untuk meningkatkan kualitas tim pada musim mendatang. “Walaupun kita belum bisa melanjutkan ke babak berikutnya, jangan putus asa dan patah semangat. Jadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran untuk tahun berikutnya. Dari kegagalan di fase grup ini kita bisa memetik banyak hikmah dan pelajaran yang nantinya menjadi bahan evaluasi untuk musim berikutnya,” katanya.
Lebih lanjut, Yosephine menegaskan bahwa kegagalan di level nasional tidak seharusnya dipandang sebagai masalah besar, melainkan bagian dari proses perkembangan sebuah klub. “Jangan melihat kekalahan ini menjadi sebuah problem besar, tetapi ini bagian dari pembelajaran. Karena sampai di level nasional itu tidak gampang. Setelah berada di sana, mereka bisa merasakan langsung bagaimana suasana dan tantangan di kompetisi nasional,” ujarnya.
Yosephine juga menyoroti pentingnya persiapan yang matang, baik dari aspek teknis di lapangan maupun nonteknis yang mendukung performa tim secara keseluruhan, termasuk penanaman target yang jelas sejak awal guna membangun motivasi yang kuat.
“Untuk bisa berhasil di level nasional memang banyak hal yang harus dipersiapkan. Tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga nonteknis. Perlu observasi dan persiapan yang menyeluruh sehingga saat berangkat ke kompetisi nasional semua unsur tim sudah benar-benar siap,” jelasnya. “Target juga harus ditanamkan sejak awal. Ketika seluruh tim memiliki tujuan yang sama untuk meraih kemenangan, motivasi akan terbentuk lebih kuat. Karena beban dan tantangan di level nasional jauh lebih besar dibandingkan kompetisi daerah,” pungkas Yosephine.
Sumber: Tribun Medan
